PENINGKATAN KUALITAS GURU MELALUI PENILAIAN KINERJA GURU

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

 

            Berdasarkan pasal 1 UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki  kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ketika proses pendidikan tersebut berlangsung banyak faktor yang mempengaruhi  baik faktor internal maupun eksternal. Yang termasuk faktor internal adalah guru, siswa, sarana pendukung, dll.  Faktor eksternal seperti  kondisi ekonomi, kebijakan pendidikan, budaya,dll. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi.

            Guru  merupakan faktor internal yang memiliki pengaruh besar bagi keberlangsungan proses pendidikan. Guru  masih menjadi sosok yang diperlukan dalam dunia pendidikan, tidak mungkin sosok guru dapat digantikan dengan apapun termasuk kehadiran teknologi. Walaupun peran guru masih sangat dibutuhkan, guru  bukan hanya berperan sebagai penyampai informasi saja tapi lebih pada peran guru sebagai agen perubahan (agent of change). Perubahan yang dimaksud tentu saja mencakup dimensi yang luas baik berkaitan dengan tingkat kempuan berpikir siswa maupun sikap hidup mereka. Dalam hal seperti ini guru sebagai bagian penting dari proses pendidikan memiliki peran dalam proses pembudayaan. Untuk itu penanganan pendidikan yang dilakukan guru memerlukan sikap profesional.

 

Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran

penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  Pemerintah dan masyarakat memiliki harapan besar terhadap guru. Guru diakui sebagai salah satu bidang profesi yang mulai dilirik orang. Banyak harapan tergantung  di pundak guru. Guru diharapkan menjadi seorang profesional  dan memiliki kompetensi. Berdasarkan PP  No. 19 Tahun 2009 bahwa setiap guru harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.  Keempat kompetensi hanya dapat dicapai dengan kemamuan guru yang tinggi. Tanpa kemamuan yang tinggi jangan harap kompetensi akan diraih.

            Dalam perkembangannya saat ini guru dapat dikategorikan sebagai profesi yang mulai dilirik banyak orang. Kenapa demikian?  Dulu guru dikenal sebagai profesi yang tidak dipandang karena dilihat dari tingkat kesejahteraan guru yang belum memadai. Tapi saat ini pemerintah memberikan perhatian yang luar biasa kepada guru. Perhatian tersebut diberikan melalui proses sertifikasi. Sertifikasi merupakan bentuk penghargaan  agar guru memiliki kompetensi.  Guru bersertifikasi berarti guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik. Guru tersebut biasanya sudah melewati tahap kegiatan seperti portofolio dan kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

            Harapan pemerintah kepada guru bersertifikasi tentu saja peningkatan kualitas guru dan sikap profesional guru. Guru sekarang ini bukan lagi guru yang hanya bersikap pasif. Guru masa kini adalah guru yang mampu menyesuaikan dengan zaman namun tetap sebagai pendidik yang memiliki integritas sebagai pendidik. Guru harus mampu menghadapi perubahan sekecil apapun perubahan itu. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara,  sebagian besar ditentukan oleh guru.

Namun kenyataannya, beberapa berita di berbagai media cetak memberitakan fakta tantang guru pascasertifikasi? Hampir sebagaian besar  pendapat tersebut bernada miring tentang guru. Guru dianggap tidak lebih baik dari sebelum sertifikasi. Kualitas guru rendah padahal sudah sertifikasi. Sertifikasi bukan jaminan kualitas guru menjadi lebih baik, dan pendapat senada lainnya yang memojokkan guru seperti itu.

Sebagai guru yang merasa sudah berusaha profesional, tentu saja kita akan merasa tersinggung dengan pendapat-pendapat seperti itu. Usaha kita merasa tidak dihargai. Kita sudah berusaha mengembangkan kompetensi dengan mengikuti kegiatan pengembangan diri. Pengembangan diri guru dilaksanakan baik karena kesadaran yang tinggi untuk terus memacu diri dengan berbagai kegiatan seperti melanjutkan pendidikan, belajar sendiri, banyak membaca, mengikuti pendidikan informal, dan lain-lain. Pengembangan diri juga dilakukan oleh pemerintah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan yang tujuannya tentu saja untuk meningkatkan kompetensi guru.

Memang tidak mudah untuk menjadi seorang yang guru profesional. Banyak faktor yang yang menjadi syarat pendidik dikatakan profesional. Dalam PERMENDIKNAS NO.16 Tahun 2007  seorang guru yang profesional  harus menguasai materi ,struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yg mendukung mata pelajaran yg diampu, Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mat pelajaran/bidang pengembangan yg diampu, mengembangkan materi pelajaran yg diampu secara kreatif, mengembangkan kefropesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif dan memanfaatkan teknologi informasi dan komuniasi utk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Guru  yang profesional  diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki  jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian. Memang tuntutan tersebut sangat ideal, namun kita sebagai guru tentu saja harus siap menghadapi tantangan itu. Kita tidak mau dikatakan sebagai guru yang tidak memiliki kompetensi. Oleh sebab itu,  profesi guru perlu dikembangkan secara  terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka  diperlukan  Penilaian Kinerja Guru  (PK GURU) yang  menjamin terjadinya proses pembelajaran.

B. Permasalahan

Menghadapi semua itu seorang guru tentu saja harus memiliki sikap dalam menjawab tantangan dan harapan pemerintah agar guru menjadi pendidik profesional. Kita harus menjawab tantangan itu dengan sikap  profesional pula. Hanya saja muncul pertanyaan berkaitan dengan hal di atas.

  1. Siapkah guru memiliki sikap profesioanl dan memiliki kompetensi?
  2. Siapkah guru dengan penilaian secara komprehensif melalui penilaian kinerja guru?
  3. Apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kinerja guru?

 

BAB II

PENINGKATAN KUALITAS GURU MELALUI PENILAIAN KINERJA GURU

  1. A.   Guru Menghadapi Perubahan

Mulai Abad 21 perkembangan pendidikan terjadi sangat pesat. Perkembangan meliputi berbagai bidang. Pendidikan mulai tahun 2010 dan seterusnya mengalami perubahan cepat sehingga pendidikan yang mengglobal merupakan keharusan bagi semua pihak. Dengan tantangan itu, paradigma pendidikan masa kini adalah pendidikan yang berbasis berpikir dan bertindak lokal dan global sekaligus. “Semua itu akan menuntut semua pihak terkait untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan yang berkembang dalam berbagai unsur pendidikan, seperti kebijakan pendidkan, asas pedagogis, kurikulum, guru, dan kepemimpinan. “Secara khusus menuntut adaptasi dalam pendidikan guru di masa depan, yakni menghasilkan guru dengan kompetensi paripurna yang mampu beradaptasi dengan tuntutan global, termasuk kemampuan berpikir dan bertindak lokal sekaligus global,” kata Mohamad Surya.

Saat ini guru harus siap dengan perubahan, sekecil apapun perubahan itu. Mulai dari perubahan kurikulum, perubahan cara berpikir, perubahan zaman, perubahan pembelajaran. Kita sebagai pendidik  harus siap menghadapi perubahan tersebut.

  1. B.   Guru sebagai Pendidik Profesional

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata profesional berasal dari kata profesi yang artinya pekerjaan. Profesionalisme (professionalism) berarti sifat profesional. Menurut Danim (2002:23) orang yang profesional memiliki sikap-sikap yang berbeda dengan orang yang tidak profesional meskipun dalam pekerjaan yang sama. Tidak jarang  pula orang yang berlatar belakang pendidikan sama dan bekerja pada tempat yang sama menampilkan kinerja profesional yang berbeda, serta berbeda pula pengakuan masyarakat kepada mereka. Profesionalisme berarti sifat yang ditampilkan dalam perbuatan, bukan yang dikemas dalam kata-kata yang diklaim oleh pelaku secara individual. Jadi profesionalisme  berarti suatu komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.

Guru atau pendidik dalam Pasal 39 ayat 2, dinyatakan bahwa: ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.

Merujuk pada Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang dimaksud dengan guru yang berkualitas adalah guru yang profesional. Ada beberapa istilah yang bertautan dengan kata profesional, yaitu profesi, profesionalisme, profesionalitas dan profesionalisasi. Untuk dapat memperjelas satu sama lain, mari kita lihat terminologi kata-kata tersebut.

Menurut Sanusi, dkk (1991:19) profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut  keahlian (expertise) dari para anggotanya. Artinya, pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu (pendidikan/latihan pra-jabatan) maupun setelah menjalani profesi  (in-service-training).

Dengan paparan di atas dengan jelas dapat dikemukakan ciri-ciri pokok profesi seperti yang diungkapkan oleh Supriadi (1998: 96-97) berikut ini:

1. Pekerjaan itu mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena diperlukan mengabdi kepada masyarakat. Di pihak lain, pengakuan masyarakat merupakan syarat mutlak bagi suatu profesi, jauh lebih penting dari pengakuan pemerintah.

2. Profesi menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang ‘lama’ dan intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan  (accountable). Proses pemerolehan keterampilan itu bukan hanya rutin, melainkan bersifat pemecahan masalah. Jadi dalam suatu profesi, independen judgment berperanan dalam mengambil keputusan, bukan sekadar menjalankan tugas.

3. Profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge), bukan sekadar serpihan atau hanya common sense.

4. Ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya beserta sangsi yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran kode etik. Pengawasan terhadap ditegakannya kode etik dilakukan oleh organisasi profesi.

Hal yang wajar bila setiap pekerjaan ada konsekuensi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan ataupun kelompok memperoleh imbalan finansial atau materil.

Menurut Sanusi, et al (1991:20) dan Danim (2002: 22) professional menunjuk pada dua hal, pertama orang yang menyandang suatu profesi. Orang yang profesional biasanya melakukan pekerjaan secara otonom dan mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai  rasa tanggung jawab atas  kemampuan profesionalnya itu. Kedua, kinerja seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Pada tingkat tinggi, kinerja itu dimuati unsur-unsur kiat atau seni yang menjadi ciri tampilan  profesional seorang penyandang profesi.

Secara luas kata profesional menunjukkan pada seseorang yang ahli atau terampil dalam seni dan atau aktivitas tertentu. Seorang profesional melakukan suatu aktivitas untuk menerima bayaran atas apa yang ia kerjakan yang biasanya menurut keahlian dan keahlian itu dianggap penting secara sosial dan kebiasaannya. Melakukan sesuatu secara profesional berarti menunjuk bahwa aktivitas seseorang itu mengikuti aturan-aturan khusus, tertulis maupun tidak tertulis mengenai perilaku, pakaian, cara bicara dan lain-lain.

Educational Leadership dalam Supriadi (1998:98) menulis bahwa untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada  kepentingan siswanya.

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

3. Guru bertanggungjawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar.

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang  telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa.

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Menurut Danim, (2002) untuk melihat apakah guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, dilihat dari tingkatan pendidikan minimal dari latar belakang pendidikan untuk jenjang sekolah tempat dia menjadi guru. Kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola proses pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas-tugas bimbingan, dan lain-lain. (Sudarwan Danim, 2002). Perspektif ini merujuk pada konsep yang dianut di lingkungan Depdiknas, sebagai “instructional leader” guru harus memiliki 10 kompetensi, yakni (Sudarwan Danim, 2002) :(1) Mengembangkan kepribadian, (2) Menguasai landasan kependidikan, (3) Menguasai bahan pengajaran, (4) Menyusun program pengajaran, (5) Melaksanakan program pengajaran, (6) Menilai hasil dan proses belajar-mengajar, (7) Menyelenggarakan program bimbingan. (8) Menyelenggarakan administrasi sekolah. (9) Kerjasama dengan sejawat dan masyarakat. (10) Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

            Berdasarkan uraian di atas tentang profesional dapat dikatakan bahwa guru sebagai salah satu profesi memberikan tantangan tersendiri bagi guru untuk bekerja secara profesional. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui sikap profesional guru yang meliputi menyesuaikan pendidikan sehingga mamiliki kemampuan dalam materi ajar. Guru juga harus memiliki landasan pendidikan agar memiliki kemampuan pedagogik sehingga mampu menghadapi anak didik secara dewasa. Guru Guru harus memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan program pengajaran, dan menilai proses pembelajaran sehingga guru mendapatkan hasil perkembangan pembelajaran. Tentu saja guru pun bukan hanya berperan dalam bidang administrasi sekolah tapi juga melakukan bimbingan dan  mampu berinteraksi dengan rekan-rekan sejawat serta masyarakat. Satu hal lagi yang menunjukkan sikap profesional adalah melakukan pengembangan diri dengan selalu melakukan penelitian sederhana, misalnya dalam proses pembelajaran.

  1. C.   Kualitas Guru

Tantangan baru yang muncul kemudian dalam rangka pelaksanaan tugas keprofesionalan seorang guru atau pendidik, seiring dengan terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 dan PP No. 19 tahun 2005 adalah tantangan normatif berupa sertifikasi guru sebagai jaminan lulus uji kompetensi sebagai guru profesional. Meskipun di dalamnya ada harapan baru berkaitan dengan tingkat kesejahteraan guru, tetapi sekaligus menjadi buah kecemasan dan penantian yang belum pasti bagi pendidik atau guru.

Guru harus berkualitas menurut Undang-undang guru. Bukti kualitas menurut standar tertentu yang menjamin seseorang dapat dikatakan sebagai guru profesional adalah selembar sertifikat. Pemerolehan sertifikat sebagai guru profesional harus melalui dan lulus uji kompetensi guru. Ada dua kriteria utama yang menjadi syarat untuk sampai kepada maksud tersebut, yakni (PP RI No. 19 Tahun 2005, pasal 28, ayat 1 – 3): (1) Memenuhi kualifikasi akademik pendidikan formal minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1), dan (2) Memenuhi standar kompetensi sebagai agen pembelajaran.

Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik seperti yang diatur dalam PP RI No. 19 Tahun 2005, pasal 28, ayat 1. Kualifikasi akademik, sebagaimana yang dimaksudkan pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seseorang yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, (PP No. 19 Tahun 2005, pasal 28, ayat 2). Pasal 6: Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (a). Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); (b) Latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan (c). Sertifikasi profesi guru untuk SMK/MAK.

Penjelasan konsep selanjutnya berkaitan dengan sertifikasi guru adalah kompetensi pendidik atau guru dan dosen. Kompetensi menurut Basuki Wibawa (2005), menggolongkan kompetensi menjadi tiga bagian, yakni: Kompetensi Individu; Kompetensi Kelompok; dan Kompetensi Inti Organisasi. Kompetensi individu adalah kombinasi pengetahuan, kemampuan/keterampilan dan sikap yang dimiliki seseorang, termasuk guru SMK sehingga ia mampu melaksanakan pekerjaan yang telah dirancang bagi dirinya (sebagai pendidik) baik untuk saat ini maupun di masa mendatang. Sementara itu, kompetensi kelompok adalah perpaduan kompetensi individu yang bersinergi untuk membentuk kompetensi inti organisasi. Kompetensi inti organisasi adalah keunggulan-unggulan sinergis yang dimiliki oleh suatu organisasi atau lembaga pendidikan sehingga mampu mencapai tujuannya dan menjawab permasalahan dan tantangan implementasi program kerja yang dihadapi. Kompetensi organisasi biasanya dibangun melalui proses pertumbuhan pembelajaran yang melibatkan berbagai elemen organisasi dan sering kali menyita waktu yang panjang dan menyerap sumberdaya yang besar.

Basuki Wibawa (2005), menyatakan bahwa kompetensi merupakan kombinasi yang kompleks antara pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai yang ditunjukkan dalam konteks pelaksanaan tugas.Sementara itu, UU RI No. 14 2005, Pasal 1, ayat 10, menegaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Dengan demikian, kompetensi guru merupakan karakteristik dasar yang ditunjukkan oleh guru dalam bentuk pernyataan, sikap dan tindakan yang membentuk kepribadiannya yang mampu membedakan dirinya dengan orang lain dengan performansi tinggi atau rendah dalam melaksanakan tugasnya di bidang pekerjaan tertentu dalam lembaga pendidikan.

Meskipun pengertian kompetensi secara umum telah dijelaskan di atas, tetapi secara rinci yang mengindikasikan kompetensi guru sebagai agen pembelajaran meliputi: Kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan Sosial, (UU RI No. 14 tahun 2005, pasal 10 ayat 1; dan PP RI No. 19 tahun 2005, pasal 28, ayat 3). Lulus uji kompetensi sebagai syarat untuk memperoleh sertifikasi profesi yang menandai layak tidaknya seorang pendidik menyandang sebutan pendidik profesional berimplikasi pada meningkatnya penghasilan pendidik. Pendidik yang menyandang sebutan profesional berhak memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokoknya. Pendapatan yang bertambah akan berimplikasi pula pada meningkatnya perhatian pendidik pada tugas pokoknya dan akan mengurangi porsi waktunya untuk bekerja “di luar” jam tugas pokoknya. Hal itu berdampak positif pada kualitas pengelolaan PBM yang dikelolanya. Selanjutnya, dapat diharapkan kualitas peserta didiknya meningkat pula. Pada akhirnya akan berdampak positif pada kualitas pendidikan pada umumnya.

Sementara dalam  Undang-undang No 14  tahun 2005  tentang Guru dan Dosen pasal 10 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28, disebutkan bahwa guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi yang dimaksud diterangkan berikut ini:

1. Kemampuan Pedagogik. Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.

2. Kemampuan Profesional. Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.

Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi profesional meliputi: (1) pengembangan profesi, (2) pemahaman wawasan, dan (3) penguasaan bahan kajian akademik. Pengembangan profesi meliputi (1) mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan penelitian ilmiah (action research), (10) menemukan teknologi tepat guna, (11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13) mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi, dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum. Pemahaman wawasan meliputi (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah. Penguasaan bahan kajian akademik meliputi (1) memahami struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi profesional guru meliputi (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan

3. Kemampuan Sosial. Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen, kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru meliputi (1) interaksi guru dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi guru dengan masyarakat. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.

4. Kemampuan Pribadi. Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.  Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik.

Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian guru meliputi (1) sikap, dan (2) keteladanan.

  1. D.   Penilaian Kinerja Guru sebagai Solusi

 

Pendapat yang mengatakan guru tidak mengalami perubahan setelah sertifikasi bisa saja terjadi . Namun hal tersebut tidak bisa kita generalisasikan dengan mengatakan semua guru tidak memiliki kualitas. Tuduhan tersebut tentu saja  tidak mendidik. Namun demikian kita harus berlapang dada untuk menjadikan pendapat itu sebagai kritik yang membangun. Sehingga guru bergerak untuk memacu diri meningkatkan kompetensinya.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk peningkatan kompetensi guru baik melalui pelatihan maupun informasi-informasi yang disampaikan. Tapi tampaknya upaya tersebut belum banyak memberi hasil sesuai dengan harapan pemerintah. Upaya lain sebagai solusi yang dilakukan pemerintah adalah melalui peningkatan kompetensi guru melalui penilaian kinerja guru.

Menurut  Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009,  PK GURU  adalah  penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya.

Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi  yang dibutuhkan  sesuai amanat  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Penguasaan kompetensi dan penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran  atau  pembimbingan  peserta didik,  dan  pelaksanaan tugas  tambahan  yang relevan bagi sekolah/madrasah, khususnya bagi guru dengan tugas tambahan tersebut. Sistem PK GURU adalah sistem penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi  kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya melalui pengukuran penguasaan kompetensi yang ditunjukkan dalam unjuk kerjanya. 

Secara umum, PK GURU memiliki 2 fungsi utama sebagai berikut.

1.  Untuk menilai kemampuan  guru  dalam  menerapkan  semua kompetensi  dan keterampilan yang diperlukan  pada  proses pembelajaran,  pembimbingan, atau pelaksanaan tugas  tambahan  yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Dengan demikian, profil kinerja guru  sebagai gambaran  kekuatan dan kelemahan guru  akan  teridentifikasi  dan  dimaknai sebagai analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru,  yang dapat dipergunakan  sebagai basis untuk merencanakan PKB.

  1. Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja  pembelajaran, pembimbingan, atau  pelaksanaan tugas  tambahan  yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah  yang dilakukannya pada tahun tersebut. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsionalnya.

Hasil  PK GURU  diharapkan  dapat  bermanfaat  untuk menentukan  berbagai  kebijakan yang terkait dengan peningkatan mutu  dan  kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan  insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi.  PK GURU merupakan acuan bagi sekolah/madrasah untuk menetapkan pengembangan karir dan promosi guru. Bagi guru, PK GURU merupakan pedoman  untuk mengetahui unsur-unsur kinerja yang  dinilai  dan merupakan  sarana untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan  individu  dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya.  PK GURU  dilakukan terhadap  kompetensi  guru  sesuai dengan tugas  pembelajaran, pembimbingan, atau  tugas  tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.

Khusus untuk kegiatan pembelajaran atau pembimbingan, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah  kompetensi  pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian,  sebagaimana ditetapkan  dalam  Peraturan Menteri PendidikanNasional  Nomor 16 Tahun 2007. Keempat kompetensi ini telah  dijabarkan menjadi kompetensi guru yang harus dapat ditunjukkan dan diamati dalam berbagai kegiatan, tindakan  dan sikap  guru  dalam melaksanakan pembelajaran  atau pembimbingan. Sementara  itu, untuk tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, penilaian kinerjanya dilakukan berdasarkan kompetensi tertentu sesuai dengan tugas tambahan  yang dibebankan  tersebut  (misalnya;  sebagai kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/madrasah,  pengelola perpustakaan, dan  sebagainya  sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara  dan  Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009). 

Profesi guru perlu dikembangkan secara  terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka  diperlukan  Penilaian Kinerja Guru  (PK GURU) yang  menjamin terjadinya proses pembelajaran.

Pelaksanaan PK GURU dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tetapi sebaliknya PK GURU dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional,  karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang  bermutu. Menemukan secara tepat  tentang kegiatan  guru di dalam kelas,  dan membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya,  akan  memberikan kontribusi  secara  langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran  yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karir guru sebagai  tenaga  profesional. 

Oleh karena itu, untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan  sebagai  penghargaan atas prestasi kerjanya, maka  PK GURU  harus dilakukan terhadap guru  di semua satuan pendidikan  formal  yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. 

Hasil PK GURU dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai  input  dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Hasil PK GURU  juga merupakan  dasar  penetapan perolehan  angka kredit  guru  dalam rangka

pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.  Jika semua ini dapat dilaksanakan dengan baik dan obyektif, maka cita-cita pemerintah untuk menghasilkan ”insan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggi” lebih cepat direalisasikan.  Memperhatikan kondisi jabatan guru sebagai profesi dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan profesi guru maka diperlukan pedoman  pelaksanaan  PK GURU  yang menjelaskan  tentang  apa, mengapa,  kapan,  bagaimana  dan oleh siapa  PK GURU dilaksanakan.  Penyusunan pedoman  ini  mengacu  pada  Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi  di atas  sebagai  acuan pelaksanaan PK GURU di sekolah untuk mempermudah proses penilaian.

  1. E.    Kesiapan Guru melalui Proses Penilaian Kinerja Guru

Bagaimana kita menyikapi rencana pemerintah yang akan menggulirkan rencana penilaian kinerja guru. Rencana pemberlakuan PK Guru oleh pemerintah kemungkinan besar akan dilaksanakan pada tahun 2013 mendatang. Pemerintah sudah mulai menyosialisasikan PK Guru melalui pelatihan-pelatihan baik tingkat kota/kabupaten, Provinsi, maupun nasional. Sikap kita sebagai guru adalah menyiapkan mental dan perubahan cara berpikir (mindset) dan cara bekerja kita. Sehingga pada saatnya penilaian kinerja dimulai kita semua sudah siap menjalaninya.

Pada prinsipnya apabila kita sudah menjadi  guru profesional dengan menjunjung profesionalitas maka apa yang direncanakan pemerintah tidaklah menjadi kesulitan. Dalam hal ini Penilaian Kinerja Guru merupakan solusi untuk meningkatkan kualitas pendidik agar menjadi guru yang memiliki kompetensi baik kompetensi professional, paedagogik, sosila, dan kepribadian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu

  1. Guru sebagai ujung tombak pendidikan tentu saja harus siap menghadapi perubahan sekecil apapunperubahan tersebut. Saat ini pendidikan mengalami perubahan cepat sehingga memungkinkan perubahan yang mengglobal. Sebagai praktisi pendidikan kita memang harus siap menghadapi perubahan. Kita harus siap menghadapi tantangan itu karena  paradigma pendidikan masa kini adalah pendidikan yang berbasis berpikir dan bertindak lokal dan global sekaligus.
  2. Guru sebagai Pendidik Profesional

Guru atau pendidik dalam Pasal 39 ayat 2, dinyatakan bahwa: ”Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.

Guru sebagai salah satu profesi memberikan tantangan tersendiri bagi guru untuk bekerja secara profesional. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui sikap profesional guru yang meliputi menyesuaikan pendidikan sehingga mamiliki kemampuan dalam materi ajar. Guru juga harus memiliki landasan pendidikan agar memiliki kemampuan pedagogik sehingga mampu menghadapi anak didik secara dewasa. Guru Guru harus memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan program pengajaran, dan menilai proses pembelajaran sehingga guru mendapatkan hasil perkembangan pembelajaran. Tentu saja guru pun bukan hanya berperan dalam bidang administrasi sekolah tapi juga melakukan bimbingan dan  mampu berinteraksi dengan rekan-rekan sejawat serta masyarakat. Satu hal lagi yang menunjukkan sikap profesional adalah melakukan pengembangan diri dengan selalu melakukan penelitian sederhana, misalnya dalam proses pembelajaran.

  1. Kualitas guru

Menurut Undang-undang No 14  tahun 2005  tentang Guru dan Dosen pasal 10 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28, disebutkan bahwa guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Guru yang memiliki keempat kompetensi tersebut dapat dijadikan indikator sebagai guru berkualitas.

  1. Penilaian Kinerja Guru sebagai Solusi

 

Menurut  Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009,  PK GURU  adalah  penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam penguasaan pengetahuan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi  yang dibutuhkan  sesuai amanat  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Penguasaan kompetensi dan penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran  atau  pembimbingan  peserta didik,  dan  pelaksanaan tugas  tambahan  yang relevan bagi sekolah/madrasah, khususnya bagi guru dengan tugas tambahan tersebut. Sistem PK GURU adalah sistem penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi  kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya melalui pengukuran penguasaan kompetensi yang ditunjukkan dalam unjuk kerjanya. 

 

  1. Kesiapan Kesiapan Guru melalui Proses Penilaian Kinerja Guru

 

Siapapun guru dan dimana pun kita berada tentu akan selalu siap untuk menjadi guru profesional. Guru profesional pastinya akan menjunjung profesionalitas sehingga apa yang direncanakan pemerintah melalui penilaian kinerja guru bukan suatu hal yang menyulitkan. Dalam hal ini Penilaian Kinerja Guru merupakan solusi untuk meningkatkan kualitas pendidik agar menjadi guru yang memiliki kompetensi baik kompetensi professional, paedagogik, sosila, dan kepribadian.

  1. Saran
    1. Hendaknya guru selalu berusaha meningkatkan kompetensi dirinya baik melalui pendidikan formal ( melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi ) maupun melalui pelatihan yang diadakan sekolah maupun pemerintah.
    2. Penilaian kinerja guru bukan sesuatu yang akan menyulitkan guru tapi justru memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan diri melalui berbagai unsur baik melalui pembelajaran maupun lewat kegiatan-kegiatan yang menunjang.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Bandung: CV Pustaka Setia

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Depdikbud. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa

Kemendiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru. http://www.bermutuprofesi.org

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Rahman A. Ghani, Abdul. 2009. Mengurai  Simpul Pendidikan. Jakarta: Uhamka Press

Supriadi, Dedi. 1998 Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Permendiknas No. 16, 17, dan 18 Tahun 2007. Standar Kualifikasi Guru dan Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Jakarta: CV Mini Abadi

Wirawan. 2002. Profesi dan Standar Evaluasi. Jakarta: Yayasan Bangun Indonesia & UHAMKA Pres.

 

Tulisan ini dipublikasikan di HASIL KARYA ARTIKEL DAN PUISI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s