Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Apresiasi Puisi Di SMA

PENDAHULUAN
Jika kita amati kurikulum 2006/KTSP khususnya standar isi Bahasa Indonesia dinyatakan secara jelas bahwa bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Begitupun pelajaran bahasa dan sastra Indonesia memiliki peran yang sama besarnya.
Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Apresiasi dimaksudkan sebagai bentuk menikmati dan menggauli sastra serta memunculkan sikap kreatif, imajinatif, dan kritis terhadap karya yang dimiliki bangsa Indonesia. Sehingga memunculkan sikap menghargai, menghormati, memiliki sikap intelektual, sosial dan emosional terhadap kenyataan yang terjadi yang dibangun melalui sastra.
Namun kenyataannya, Pembelajaran Sastra masih dipandang sebelah mata baik oleh guru maupun siswa. Hal ini menyebabkan pembelajaran sastra menjadi tidak menarik dan membosankan. Guru sering dituding sebagai penyebab pembelajaran sastra yang gagal. Padahal pembelajaran sastra di sekolah tidak bisa kita anggap sebagi materi tambahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sastra menjadi jembatan bagi guru dan siswa untuk menemukan realita kehidupan sesungguhnya melalui kajian-kajian karya sastra.
Sastra harus dipandang sebagai materi yang sama pentingnya dengan pembelajaran bahasa. Sastra bukan hanya melengkapi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia tapi sebagai materi yang mampu memperluas khasanah bahasa. Bahkan sastra dapat menjadi penyeimbang antara olah pikir dan rasa. Pembelajaran sastra dapat menjadi alternatif pemecahan permasalahan sosial yang banyak terjadi selama ini.
Pembelajaran sastra menjadi keharusan bagi guru untuk dibahas dan dipelajari secara lebih mendalam. Standar isi dalam kurikulum KTSP dinyatakan secara jelas yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar materi pembelajaran sastra. Standar kompetensi Sastra meliputi mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Materi sastra meliputi puisi, prosa, dan drama. Masing-masing materi memiliki karakteristik yang berbeda
Puisi merupakan jenis sastra yang merupakan pernyataan seni. Harus diakui bahwa puisi memang sangat unik. Keunikan puisi dapat dilihat dari proses pembentukkannya maupun bentuk puisi yang dihasilkannya. Sebagai salah satu bentuk sastra, puisi sangat berbeda dengan prosa. Ada unsur kebebasan dan permainan simbolik kata yang melebihi karya sastra prosa. Semua terwujud hanya melalui kata-kata yang mungkin memiliki maksud dan mungkin juga tidak. Pada saat ide penyair muncul akan lahirlah untaian kata-kata indah yang memiliki maksud. Kadang pula untaian kata tersebut muncul secara tiba-tiba dan menimbulkan keindahan bunyi yang luar biasa tanpa ada pretensi ataupun maksud dari untaian kata yang tercipta. Hasilnya kadang permainan simbolik dan bentuk tersebut melahirkan nuansa misteri yang sangat menarik untuk dikaji.
Puisi memang bisa menjadi sarana bagi penyair atau penciptanya untuk berbagai hal. Saat mereka melihat kenyataan ketimpangan sosial atau pun ketidakberdayaan masyarakat, puisi bisa menjadi media kritik. Bila seseorang merasakan kesedihan, puisi dapat digunakan sebagai media pelipur lara. Puisi dapat juga menggambarkan kebahagiaan penciptanya. Puisi dapat menjadi pengungkapan rasa syukur kita kepada Tuhannya. Puisi dapat mengungkapkan keindahan apapun melalui lirik-lirik yang diciptakannya. Bahkan melalui puisi seseorang dapat menyatakan ketidakpuasan tanpa dianggap memberontak. Begitu besar peran puisi bagi penciptanya karena mampu menjadi media efektif bagi dirinya.
Tapi pernahkah seorang penyair memikirkan atau mengaitkan dampak puisi yang dibuat bagi pembacanya atau memikirkan peran puisi bagi pembacanya. Kita tidak pernah yakin, hanya penyairlah yang bisa menjawab. Hal ini dapat dimaklumi karena puisi merupakan pernyataan seni yang lahir dari hati dan bersifat individual. Di sinilah peran guru yang menjadi jembatan bagi siswanya untuk bisa dekat dan mau menggauli karya sastra puisi. Sikap apresiasi terhadap karya sastra memberikan dampak bagi perkembangan budaya dan sikap berpikir siswa.
Memang harus diakui bahwa terkadang ada jenis puisi yang langsung menghadirkan amanat secara tersurat. Dan puisi-puisi yang demikian ini tidak berarti tidak bernilai. Jangan pula menggolongkan suatu puisi menjadi puisi murahan hanya karena amanatnya mudah ditangkap. Lihat dulu amanat yang disampaikan. Tapi jangan pula kita mengagap bahwa puisi yang hebat adalah puisi yang mengandung makna tersirat. Kita bisa menilai puisi tersebut baik atau tidak bergantung dari berbagai faktor.
Kenyataan lainnya ketika kita mengapresiasi sastra, pembaca sangat ingin mengetahui proses kreatif penulisnya dan berharap banyak penulis menrangkan makna yang terkandung dari puisi-puisinya. Padahal pengarang menganggap apa yang dia ciptakan sudah selesai ketika ia menyelesaikan puisinya. Pembacalah yang dipersilakan untuk memberi makna. Siswa yang menjadi bagian dari pembaca menjadi orang yang harus berpikir keras untuk memaknainya dan guru lah yang menjadi komunitas sastra yang diharapkan mampu menengahi persoalan ini.
Guru bahasa yang sekaligus harus menjadi guru sastra mau tidak mau memang memiliki tugas ganda yaitu sebagai guru bahasa dan guru sastra. Peran guru bahasa Indonesia sangatlah berat karena tanggung jawab mereka harus sampai bagaimana tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia tercapai. Dalam kurikulum 2006 dinyatakan secara jelas bahwa Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Kemendiknas melalui pusat kurikulum menyikapi persoalan bangsa yang menjadi sorotan masyarakat saat ini melalui Pendidikan Budaya Karakter Bangsa. Jika kita amati persoalan bangsa yang menjadi sorotan sangatlah banyak, seperti korupsi, kejahatan seksual, sikap konsumtif, kekerasan, perkelahian massa, sampai persoalan politik yang tidak sehat. Hal tersebut menjadi bentuk kegelisahan masyarakat dan pemerintah menyikapi persoalan tersebut melalui pendidikan.
Sebagai praktisi pendidikan, guru mengemban amanat sangat besar untuk mengatasi minimal mengurangi persoalan tersebut melalui pembelajaran. Proses pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa dilaksanakan melalui pembelajaran aktif di kelas. Sesuai dengan prinsip pembelajaran bahwa siswa aktif dalam belajar, maka pendidikan karakter dipelajari bukan sebagai keterampilan kognitif tapi sebagai pengembangan nilai-nilai, menjadikan nilai-nilai sebagai dasar yang harus dimiliki dan diterima sebagai sikap hidup dan pedoman hidup.
Guru Bahasa Indonesia juga memiliki peran yang sama sebagai pengemban amanat bangsa melalui pembelajaran bahasa dan sastra. Kita sadari saat ini kondisi para siswa tidak semuanya yang berjalan dalam koridor yang benar. Kita amati banyak terjadi kasus-kasus yang memberikan citra buruk bagi dunia pendidikan dengan berbagai kasus, seperti tawuran antar pelajar, kekerasan terhadap pihak lain, bahkan pelecehan seksual. Semua itu dilakukan oleh pelajar. Memang jika kita hitung secara angka yang melakukan hal-hal tersebut persentasenya tidaklah besar tapi tetap saja citra pelajar menjadi jelek.
Pembelajaran sastra menjadi salah satu alternatif yang mungkin memberikan kontribusi bagi pembentukan mental dan penanaman nilai-nilai para siswa. Banyak yang bisa kita lakukan untuk mengusahakan pendidikan karakter sebagai bentuk nilai-nilai yang kita gali melalui pembelajaran sastra. Hal tersebut dapat kita lakukan melalui pembelajaran apresiasi puisi.

2. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk membahas bagaimana penerapan pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam pembelajaran puisi di SMA. Selain itu untuk menguraikan peranan pembelajaran puisi bagi pendidikan budaya dan karakter bangsa. Tujuan lain adalah mengembangkan pembelajaran puisi yang inovatif dan mampu menerapkan pembelajaran budaya dan karakter bangsa.
II. PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA DALAM PEMBELAJARAN PUISI
1. Hakikat Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta diik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berlmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang emokratis serta bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Budaya diartikan sebagai keseluruhan berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. ( Hasan, 2010)
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagi kebaikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. ( Hasan, 2010)
Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Penegertian tersebut dapat mencakup sebagai usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan bangsa untuk masa depan.
Berdasarkan pengertian di atas maka Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber yaitu agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan keempat sumber tersebut teridentifikasi pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. ( Hasan, 2010 )
2. Pembelajaran Puisi
Standar isi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mencakup empat aspek berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik berkaitan dengan bahasa maupun sastra. Aspek berbahasa yang merupakan standar kompetensi tersebut mencakup kopetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Kompetensi dasar yang membahas sastra,khususnya puisi adalah
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Kelas X, Semester 1
Mendengarkan
1. Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/tidak langsung
5.1 Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
5.2 Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
Membaca
2. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan cerpen

7.1 Membacakan puisi dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

8.1 Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
8.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima

Kelas X, Semester 2
Berbicara
9. Mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi

14.1 Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi
14.2 Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi

Kelas XII, Semester 1
Berbicara
1. Mengungkapkan pendapat tentang pembacaan puisi
6.1 Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
6.2 Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Membaca
2. Memahami wacana sastra puisi dan cerpen
7.1 Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai

Kelas XII, Semester 2
Berbicara
11 Mengungkapan tanggapan terhadap pembacaan puisi lama
14.1 Membahas ciri-ciri dan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam
14.2 Menjelaskan keterkaitan gurindam dengan kehidupan sehari-hari
Membaca
12 Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan karya sastra yang dianggap penting pada tiap periode
15.1 Mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer melalui kegiatan membaca buku kumpulan puisi komtemporer

Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di atas, pembelajaran puisi di SMA mencakup keempat aspek berbahasa. Pembelajaran puisi adalah proses interaksi guru dan siswa dalam mengapresiasi puisi.
2. Hakikat Puisi
Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan si penyair. I.A Richards menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi (Waluyo,1995). Ada empat unsur hakikat puisi, yakni : tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap puisi (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur itu menyatu dalam ujud penyampaian bahasa penyair.
1. Tema
Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dan tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh sebab itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi obyektif (bagi semua penafsir), dan lugas ( tidak dibuat-buat).
2. Perasaan (feeling)
Dalam pembuatan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dikhayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula. Masing-masing penyair memiliki rasa yang berbeda sehingga memunculkan karakter yang berbeda.
3. Nada dan Suasana
Dalam menulis puisi, penyair memiliki sifat tertentu tehadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersifat lugas hanya menceritakan sesuatu terhadap pembaca. Sikap penyair tehadap pembaca ini disebut nada puisi. Sering sekali nada puisi bersifat santai karena penyair ingin bersikap santai terhadap pembaca. Hal ini dapat kita jumpai dalam puisi-puisi embling.
Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Jika kita berbicara tentang sikap penyair, maka kita berbicara tentang nada; jika kita berbicara tentang suasana pembaca yang timbul setelah membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.
4. Amanat (pesan)
Amanat yang hendak disampaikan si penyair dapat kita telaah setelah memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan/Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang tersusun, dab juga dibalik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan si penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran si penyair, namun banyak penyair yang tidak sadar akan amanat yang hendak diberikan. (Waluyo, 1995)
Yang berikut ini definisi Altenbernd (Pradopo,1993), puisi adalah pendramaan pengalaman yang besifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in metrical language).
Samuel Taylor Caloridge mengemukakan puisi itu ialah kata-kata yang terindah dalam susunan yang terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara secara sebaik-baiknya, misalnya, seimbang, simetris antara unsur satu dengan unsur lain sangat erat hubungannya, dan sebagainya. (Pradopo, 1993)
Carlyle berkata, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musical. Penyair dalam membuat puisi memikirkan bunyi yang merdu seperti musik, yaitu dengan menggunakan orkestrasi bunyi. (Pradopo, 1993)
Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif , yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. (Pradopo, 1993) Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur. (Pradopo, 1993)
Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistic dalam bahasa emosional serta berirama. Di sini, misalnya dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun dengan artistic (misalnya selaras, simetris, pemilihan katanya tepat, dan sebagainya) dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur). (Pradopo, 1993)
Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita, misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya itu merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam. (Pradopo, 1993)
Jadi, walaupun definisi-definisi puisi memiliki perbedaan namun dapat ditarik simpulan bahwa bila unsur-unsur dari pendapat itu disatukan, maka akan didapati secara garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya. Unsur-unsur tersebut berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Disitu dapat disimpulkan ada tiga unsur yang pokok. Pertama, hal yang meliputi ide, pikiran, dan emosi; kedua, bentuknya; dan ketiga ialah kesannya. Semuanya itu terungkap dalam media bahasa.
3. Apresiasi Puisi
Kata apresiasi berasal dari kata apresiate yang artinya menikmati. Apresiasi dapat diartikan sebagai mengadakan pendekatan dari diri sebagai penikmat. Apresiasi sastra dapat diartikan mengadakan pendekatan dari diri sebagai penikmat dan menghargai karya seni sastra. (Asmara, 1992)
Penulis mendefinisikan Apresiasi puisi adalah proses menggauli, menghayati, menikmati, dan mencipta serta menilai puisi.
Kegiatan apresiasi akan melibatkan jiwa penikmat dan pencipta melalui karya-karyanya. Untuk itu kegiatan apresiasi tidak akan lepas dari kegiatan merasakan, mengimajinasikan, dan memikirkan. Puisi lahir dari manusia yang memiliki pengalaman dari lingkungan sosial dan spiritual.

III. PENERAPAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA DALAM PEMBELAJARAN PUISI KARYA ZAWAWI IMRON
1. Bahan Ajar Puisi
Bahan ajar yang dipilih adalah beberapa puisi karya Zawawi Imron dalam kumpulan puisi berjudul “Bantalku Ombak Selimutku Angin”
Puisi-puisi yang kami pilh secara acak adalah
Lagu Petani
Pada tekstur tanah tegalan
Sehabis ayun cangkul musim penghujan
Ada corak hati menyimpan nyanyian
Kini yang dekat adalah pantai

Di pantai
Yang padanya tak tiba rindu
Setangkai seludang
Merangkum buliran mayang

Dan mayang
Akan setia
Mengharumkan keringat segar
Sampai jauh ke padang mahsyar

Dalam doamu, sahabatku!
Kulihat kupu-kupu akan hinggap
Ke kembang randu. Oh, tuhanku!

Pertemuan Dengan Pak Dirman
Langit di ubun Surabaya tak lagi menabur cahaya
Saat menjelang tengah malam
Kusususri urat nadinya
Lampu-lampu merkuri telah mempersolek kotaku
O, Surabayaku, alangkah cantiknya engkau
Molek bagai perempuan genit
Terus terang aku ingin mencintaimu
Dengan hati seorang santeri
Tapi mungkikah itu yang engkau mau
Lampu;lampu kendaraan yang lewat
Sebentar sebentar menyorotku
Menyilaukan mataku
Hampir pula menyilaukan hatiku
Sedang aku tidak berkawan
Selain Tuhan
Dijanting kota kutemui sesosok tubuh
Kerempeng dan sederhana
Ia hanya sebentuk patung
Aku ingin sekali menegurnya
Andaikan ia bernyawa
Tapi tersenyum juga aku padamu
O. Pak Dirman
Tubuhnya yang kurus
Tetap menyimapan keperwiraan
Sorot matanya yang lembut
Mengingatkan akan sajadah alam
Yang ia hamparkan saat gerilya
Bermalam Di Rumah Ibu
Keramahanmukah itu, yang masuk bersama angin
Lewat sela dinding bambu?
Tengah malamku yang sayup, menyayupkan
Yang paling sayup di ujung napasku
Bagaimana besok aku mengaku mempelai
Sedang rumput-rumput halaman
Hanya kupercayakan pada kemarau
Yang memerah mayang dari kangean ke sembilangan
Ingin juga aku mengucap
Kesaksianku, tentang kandang sapi karapan itu
Tapi tanah tegalan lebih dahulu berwarna
Yang aku tak sanggup membantah
Ranjang ibuku balai-balai bambu
tak berkasur tak berkelambu
tidurku telah berpacu mengejar
burung gagak yang mengigau, untuk
kutangkap untuk pesta selamatan
di persimpangan jalan kampong
demikianlah, aku akan tidur lagi walau sebentar
melupakan beban dan sekian permintaan
karena aku harus bangun sebelum pagi
mendengarkan burung-burung, yang menghidupkanku
dari sekian ketidakpuasan

Lambaian-Lambaian Malam
Memang seperti bisikan malam
Bahwa kebeningan pun akan datang
Bersama derap-derap embun yang
Melibatkanku dengan satu pembicaraan
Dari suara sapi yang menguak dari luar kandang
Sudah bisa ditebak
Tekstur bumi yang kemarau
Anehnya langit tak tambah lusuh
Di taburnya suara-suara
Dan diangkatnya suara-suara
Meski hati-hati kumendengarkan
Sedikit sekali yang sempat kurekam
Akhirnya musim hujan toh akan datang
Menyulur seluruh akar pepohonan
Nenek pernah berkata bahwa bintanglah
Yang menebur embun
Tapi lebih kusayang daun-daun siwalan
Bagaikan seribu lambaian tangan
Meminta keakraban
Senja yang Merah

Batu-batu, rumputan gersang
Dan pohon siwalan dipunggung bukit
Pada tengadah ke atas langit
Lalu sunyi dipecah talu selampar
Yang memantul ke caruk lembah
Orang-orang kampung seperti hapal
Seorang lelaki sedang memanjat pohon siwalan
Menyadap nira
Buat diminum istri tercinta
Dan dua orang anaknya
Turun memanjat di bawah pangkal pelepah
Selampar putus, waktu pun tersentak
Doa terbang mengetuk surga
Nira tergenang di tanah
Bercampur darah
Tanah pun jadi jingga
Dijilati lidah senja
Sampaikan kepada dua harapanku
Bahwa bulanku yang kini ungu
Buat buat mereka selalu
Jengkerik-jengkerik seperti mengaji
Teriring sayup kejauhan
Melengkapi guram menjelang malam

Lancur ayam bersepuh bara
Bergantung di pipi senja
(ping pilu’
Awal sebait kidung Madura
Barangkali maknanya
Berkeping-keping hati yang pilu)

Sebatang pohon siwalan
Tegak dan diam, tugu alam yang member dahaga
Tapi nanti seorang ibu
Di bawah teratak beratap ilalang
Akan menunjuknya
Dengan jari ranting daharu,

—- anakku, tumpuan harapanku
Wangi hati ayahmu
Di mulai di pohon itu

Di Bawah Matahari

Langkah pagi menapak kebun
meluruh daun-daun impian
ada senandung halus mengalun
di atas kabut
di atas embun

doa Nima sehabis subuh
disusul siul ayahnya
mengerat mayang
di atas pohon siwalan
sebentar lagi turun membawa setimba lahang

di sini daun-daun siwalan
adalah kipas yang mengibaskan angin
bagi kehidupan
yang menolak keringat dingin
derita pun menyelinap
ke bulu-bulu tikus
ke bulu-bulu musang
lantaran manis lahang dan desir darah ke lesap

kolam bening, minyak wangi
seakan bukan milik mereka
mengangguk pohon kapuk
bergoyang dengan kelompang
senyuman yang hidup itu
seperti petuah leluhur
ialah peluh terkucur
lalu diaduk bercampur lumpur

2. Model Pembelajaran Puisi Berbasis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Standar Kompetensi : Berbicara
Mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi
Kompetensi Dasar : Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi
Pendekatan : Kontekstual, Komunikatif
Strategi : Kooperatif Learning
Metode : Diskusi, Analitis, Inquiri
Model : Jigsaw (Tim Ahli )
Langkah-langkah Pembelajaran:
1. Siswa dibagi menjadi enam kelompok (tim)
2. Guru memilih satu anak yang memiliki kemampuan sastra untuk dijadikan narasumber sebagai kelompok ahli
3. Siswa yang terpilih sebagai leader di kelompoknya berkumpul untuk mendapatkan bahan ajar berupa teori apresiasi puisi dan materi pendidikan budaya karakter bangsa
4. Setiap kelompok membahas satu puisi karya Zawawi Imron
5. Setiap kelompok menganalisis puisi berdasarkan informasi yang didapat dari leader masing-masing
6. Setiap kelompok membacakan puisi dan melaporkan hasil analisis puisi berbasis pendidikan budaya karakter bangsa
7. Guru memberikan reinforcement dan evaluasi berkaitan dengan laporan analisis puisi

3. Analisis Puisi Karya Zawawi Imron
A. Contoh analisis puisi berbasis budaya karakter bangsa
Di Bawah Matahari

Langkah pagi menapak kebun
meluruh daun-daun impian
ada senandung halus mengalun
di atas kabut
di atas embun

doa Nima sehabis subuh
disusul siul ayahnya
mengerat mayang
di atas pohon siwalan
sebentar lagi turun membawa setimba lahang

di sini daun-daun siwalan
adalah kipas yang mengibaskan angin
bagi kehidupan
yang menolak keringat dingin
derita pun menyelinap
ke bulu-bulu tikus
ke bulu-bulu musang
lantaran manis lahang dan desir darah ke lesap

kolam bening, minyak wangi
seakan bukan milik mereka
mengangguk pohon kapuk
bergoyang dengan kelompang
senyuman yang hidup itu
seperti petuah leluhur
ialah peluh terkucur
lalu diaduk bercampur lumpur

Puisi karya Zawawi Imron di atas dimulai dengan kata-kata yang memancarkan nilai “semangat” terdapat dalam larik bait pertama yaitu Langkah pagi menapak kebun
meluruh daun-daun impian ada senandung halus mengalun.
Nilai lain yang bisa kita rasakan adalah nilai “religius” dalam bait kedua yaitu dalam larik doa Nima sehabis subuh disusul siul ayahnya mengerat mayang.
Bait keempat memunculkan nilai “kejujuran”
Nilai “kerja keras” hadir dalam larik pada bait keempat.
Simpulan puisi karya Zawawi Imron tersebut adalah bahwa puisi tersebut mengandung nilai-nilai karakter yang bisa dijadikan sebagai dasar pembentukan jati diri melalui nilai-nilai puisi di atas.
B. Contoh analisis puisi bertema kepahlawanan
Pertemuan Dengan Pak Dirman
Langit di ubun Surabaya tak lagi menabur cahaya
Saat menjelang tengah malam
Kusususri urat nadinya
Lampu-lampu merkuri telah mempersolek kotaku
O, Surabayaku, alangkah cantiknya engkau
Molek bagai perempuan genit
Terus terang aku ingin mencintaimu
Dengan hati seorang santeri
Tapi mungkikah itu yang engkau mau
Lampu;lampu kendaraan yang lewat
Sebentar sebentar menyorotku
Menyilaukan mataku
Hampir pula menyilaukan hatiku
Sedang aku tidak berkawan
Selain Tuhan
Dijantung kota kutemui sesosok tubuh
Kerempeng dan sederhana
Ia hanya sebentuk patung
Aku ingin sekali menegurnya
Andaikan ia bernyawa
Tapi tersenyum juga aku padamu
O. Pak Dirman
Tubuhnya yang kurus
Tetap menyimpan keperwiraan
Sorot matanya yang lembut
Mengingatkan akan sajadah alam
Yang ia hamparkan saat gerilya
Aku pun lewat di samping kanannya
Sesuai dengan aturan lalu lintas yang ada
Sepuluh meter setelah aku membelakanginya
Tiba-tiba terdengar suara:
“Penyair,
Kemarilah!”
Aku celingukan ke kanan kiri
Tapi tak ada siapa-siapa
Kecuali kendaraan yang simpang siur tak mengenalku
Langkah pun kuayun kembali
Terdengar lagi suara:
“Anakku,
Apa engkau tidak mendengar
Panggilanku?
Aku menoleh ke belakang
Kulihat tangan patung itu melambai padaku
Dengan denyut cinta bercampur takjub
kudekati patung itu
Amboi,
jabat tangan kami erat sekali
“Pak Dirman,
jabat tangan ini sungguhan
atau hanya sebuah mimpi
….
Puisi di atas bertema tentang kepahlawanan lebih tepatnya kekaguman atas sosok kepahlawanan Jenderal Sudirman. Nilai karakter yang dapat kita hayati adalah perjuangan, religius, sikap sederhana, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta tanah air, peduli lingkungan, peduli sosial, disiplin.
Jika kita amati puisi-puisi Zawawi Imron secara umum bertema tentang lingkungan alam, kesederhanaan, msyarakat desa khususnya Madura, keindahan dan realita alam, religius, kemanusiaan, realita kehidupan masyarakat.
Tema-tema yang terdapat dalam puisi karya Zawawi Imron banyak memberikan pendidikan karakter sesungguhnya. Kita bisa belajar bersyukur, kita belajar menghargai orang lain, kita belajar merasakan kondisi masyarakat, kita juga diajarkan untuk cinta tanah air, kita juga diajarkan untuk peduli kepada lingkungan dan sesama, bahkan kita diajarkan untuk bersyukur dan mengingat Allah SWT. Mengapresiasi puisi karya Zawawi Imron memberikan pengalaman hidup lebih mendalam dan belajar memaknai hidup. Hal ini penting dalam rangka pembentukan karakter anak didik.

IV. PENUTUP
Mengapresiasi kegiatan sastra khususnya puisi bukan hanya kita mencoba mencari makna puisi tapi lebih dalam lagi bagaimana kita mendapatkan sesuatu pembelajaran melalui puisi. Puisi bukan hanya merupakan luapan perasaan pengarang, tapi merupakan bentuk mengungkapkan rasa dan pikir penulis melalui kata-kata. Makna puisi dapat disampaikan secara tersirat maupun tersurat.
Melalui pembelajaran model Jigsaw, diharapkan siswa mampu menggali dan menikmati karya sastra. Dengan metode inquiri, siswa menggali kemampuan mengungkap imajinasi, pikiran penulis lewat kata-kata yang diciptakan. Melalui model ini siswa dapat membangun karakter kerja sama, komunikasi, menghargai prestasi, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab.
Melalui apresiasi puisi siswa belajar menggali nilai-nilai pendidikan karakter bangsa yang banyak terdapat dalam puisi-puisi khususnya puisi karya Zawawi Imron. Kita mengenal Zawawi Imron sebagai sosok sederhana yang sangat mencintai tanah air, memiliki sikap religius, sayang keluarga, menghargai orang lain, cinta lingkungan, dll. Melalui puisi-puisinya kita banyak belajar menggali nilai-nilai karakter yang menjadi pedoman bagi para siswa sebagai sikap mental menghadapi tantangan masa depan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Asmara, Adhi.Apresiasi Puisi. Jakarta: Nurcahaya, 1992
Hasan, . Pendidikan Budaya dan Karkter Bangsa, Jakarta: puskur, 2010
Imron, Zawawi.Bantalku Ombak Selimutku Angin, Jakarta: Gama Media, 2000
Pradopo, Rachmat Djoko. Jogjakarta: Gajah Mada University Press, 1993
Sumardjo, Jacob dan Saini K.M. Apresiasi Kesusatraan. Jakarta: PT Gramedia, 1986
Waluyo, Herman J. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga, 1995

Tulisan ini dipublikasikan di HASIL KARYA ARTIKEL DAN PUISI. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Apresiasi Puisi Di SMA

  1. siti zubaedah berkata:

    ijin share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s